Lembar Lama untuk Lembar Baru PII Aceh Tengah

Lembar Lama untuk Lembar Baru PII Aceh Tengah

Iwan Aramiko

Semtember, 27 2009

KESUNYIAN malam masih terasa seusai magrib, 25 September 2009 di kediaman Wakil Bupati Aceh Tengah, Djauhar Ali. Bunyi knalpot kendaraan roda dua yang sering terdengar saat melintas di depan rumah Djauhar. Hanya dua anggota Polisi Pamong Praja yang terlihat berlalu lalang di sekitar rumah yang dihiasi tiga mobil mewah itu.

Beberapa saat kemudian terlihat pemuda berpakaian rapi menjaga pintu gerbang rumah itu, salah satu dari mereka memakai jas berwarna kuning muda bertulisan PII, ia mengajak masuk kami yang hendak menghadiri acara silaturrahmi Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia.

“ Dek ayoo masuk dek…” unjar Win Noto, ketua umum PII Aceh Tengah.

Saat malam mulai menjelang, rumah Djauhar semakin didatanggi sesepuh PII dari tahun 50an sampai 90an. Salah satunya Mahmud Ibrahim, pria yang selalu berpakaian serba putih ini terlihat mulai mencicipi suguhan dari Djauhar Ali selaku tuan rumah. Tak hanya Mahmud Ibrahim saja yang datang pada malam itu, Irsyadudin, M. Taib WA, Ibnu Hajar Lot Tawar, Ishak, Zainal Abidin Mude, Halimatul SA’diah, Surapati, Abdul Aziz, Ibnu Sabil dan beberapa anggota Pengurus Daerah PII Aceh tengah turut berhadir dalam diskusi malam itu.

Diskusi yang dimoderatori oleh Radiah Amna berlangsung alot semenjak pukul delapan sampai dengan pukul sebelas malam.

“ Setiap priode kepengurusan PII mempunyai tantangan yang berbeda-beda sesuai dengan masanya, pada masa kepengurusan Ayahanda Mahmud Ibrahim mungkin tantangannya adalah PKI sedangkan pada masa kepengurusan saya adalah Azaz Tunggal dan pada masa sekarang tantangannya adalah kemampuan pribadi, keteladanan dan IPTEK dari kader itu sendiri. Sekarang jadilah PII yang menjadi warna, bukan menjadi air, PII yang memberikan warna di dalam air, bukan PII yang diwarnai.” ungkap Ibnu Hajar saat mengawali diskusi malam itu.

Selain itu, Ibnu Hajar juga menegaskan betapa pentingnya melesatarikan bahasa daerah, khususnya bahasa Gayo. Menurut survei yang dilakukan bahwa rumah tangga yang memakai bahasa melayu maka keluarga mereka akan tidak sempurna. Pentinganya bahasa Gayo dalam kehidupan kita adalah dengan mengunakan bahasa Gayo berarti kita sudah ikut mendukung melestarikan bahasa kita sendiri. Apabila ada satu juta penduduk yang tidak menggunakan bahasa Gayo, maka tidak tertutup kemungkinan bahasa Gayo akan hilang dari zaman.

Saat Djauhar Ali meyampaikan sambutannya, ia menyampaikan kekecewaannya terhadap pengurus daerah sekarang yang krisis keilmuan Islam. “ Pelajar Islam Indonesia. Islam yang kalian pegang, maka sangatlah penting untuk menguasai pokok-pokok Islam itu, salah satunya adalah Tauhid dan Aqidah. Aqidah Islam haruslah dijaga karena kita adalah Pelajar Islam, untuk itu saya menawarkan sebuah program yang bekerjasama dengan MUI dan Baitul Mal dalam proses pembenahan Ilmu Islam.” ungkap Djauhar.

Menjawab keluhan Pengurus Daerah yang tidak mempunyai seketariat tetap, Djauhar menegaskan bahwasanya Pelajar Islam Indonesia adalah milik umat, dan PII itu sendiri tidak boleh jauh dari masjid. “Djauhar juga berharap besar bahwa PII dapat mendukung Pemerintah Daerah dalam pembangunan daerah.

” Menutup sambutannya malam itu. Mantan SEKDA Bener Meriah, Ishak juga menambahakan bahwasanya dalam membumikan PII di Aceh Tengah haruslah melakukan sosialisasi yang mendasar kepada setiap lapisan. “ Masayarakat, Pelajar dan Kepala Seolah adalah sasaran yang paling utama untuk melaukan sosialisasi,” ungkap Ishak.

“ 70% pikiran kita haruslah keislaman dan baru 30% lagi untuk sosial, misalkan untuk berpikir ke arah regional, nasional dan daerah, “ tegas Ishak.

Kita juga mempunyai suatu kesempatan dalam membantu anak yatim khususnya, karena sekarang Pemerintah Aceh mengalokasikan anggaran sebesar 180 Milyar khusus kepada anak yatim, jika Pelajar Islam Indonesia mempunyai kegiatan positif untuk membantu anak yatim, maka cobalah untuk meraih ini, tambah Ishak.

Desus angin yang masuk melalui pintu sudut belakang tidak menguranggi semangat suasana malam itu, rangkaian hidangan segelas teh menambah hangatnya suasana ketika Zainal Abidin Mude menyampaikan kesannya kepada PII-PII yang hadir dalam acara tersebut. Kerut wajah yang dihiasi jenggot putih dengan dibalut syal hijau menjadi pelengakap attribut Zainal. “ ngoken aku wan penjere, daripada ko wen, kebue mu wan jeroh, ( lebih baik saya masuk dalam penjara, apabila yang kamu kerjakan itu baik,“ tegas Zainal dalam bahasa Gayo.

Umat islam sekarang bukanlah umat islam yang sesungguhnya, malam takbiran kemarin cobalah kita saksikan bersama apa yang dikerjakan oleh anak muda, mereka saling berpelukan menggikuti iringan-iringan pawai takbiran, siapa yang tidak kecewa. ungkap Zainal.

Pentingnya manajemen islam yang baik merupakan modal utama dalam memperbaiki kehidupan sekarang, mulailah dari memanajemen rukun Islam. Itulah yang seharusnya ada dalam hidup kita. Menghadapi globalisasi sekarang, kita harus mampu mengimbangginya. PII haruslah lebih unggul dalam hal ini, karena selama ini 88% yang menjadi pemimpin dalam PII akan menjadi pejabat di dalam kepemerintahan. Sekarang untuk mengapai itu semua haruslah dibutuhkan suatu manajemen yang sangat baik. Tambah Mahmud Ibrahim mengawal penutupan malam itu.

“ PII haruslah mempunyai attribut yang jelas, untuk memperjelas identitas diri PII itu sendiri. Selain itu untuk membangkitkan PII di Aceh Tengah, buatlah suatu buku yang menggambarkan sejarah PII di Aceh Tengah. Dalam hal ini adik-adik PII dapat langsung berkonsultasi dengan Adinda Ibnu Hajar Lot Tawar,” tambah Mahmud Ibrahim.

***

Goresan kisah di Lu’ Mata Ie

Iwan Aramiko | January 2th 2010

Ia duduk di lantai keramik putih, kedua kakinya dilipat kebelakang. Tanganya sibuk memegang sebuah pena dengan  sebuah kertas. “ semangatnya yang mau pigi ni…,” ungkapnya  sambil menggangkat sebuah kertas. Juzamalia namanya. Usia Sembilan belas tahun.  Di hadapnya Julia, warga Negara Germany keturunan China. Ia  volunteer internasional yang datang ke Aceh, bersama tujuh rekannya ia ikut berpartisipasi dalam acara Aceh Green Initiatives yang berlangsung dari tanggal 28 Desember sampai tanggal 1 januari 2010.

Malam itu pukul 07.00, Rabu 30 Desember 2009, Al Kahfi Faoundatiaon dipadati oleh volunteer lokal dan internasional.  Ojha berada diantara mereka, ia seorang muslimah yang selalu memakai Jibaber.

tidak ikut ,” tanyaku

“ tidak, anak cewek tidak boleh ikut. Tidak tikasih,” katanya sambil memandang ke arahku.

Ya, pada hari itu memang sedang diadakan acara kemah dari serangkaian acara dari Aceh Green Initiatives.

Norman PAN penggagas dari acara itu di dampinggi Fitri sebagai ketua project. Fitri terbilang baru sebagai volunteer di Al Kahfi, ia berasal dari Kisaran Medan.  Sedangkan Norman PAN merupakan direktur dari Al Kahfi Foundation, tidak tahu apa kepanjangan PAN yang jelas bukan singkatan dari Partai Amanat Nasional.  Dulu ia sering pergi ke beberapa Negara untuk urusan kepemudaan.

Menghijaukan lingkungan memang langkah cerdas yang dapat dilakukan, selain mendukung visi Aceh Green yang digagas pemerintahan Irwandi-Nazar  ini juga merupakan wujud nyata sebagai komitmen bahwa pemuda pemudi Aceh juga peduli terhadap lingkungan. Berkerja sama dengan beberapa Negara seperti Thailand, Germany, French, Japan acara yang bermodalkan 5000 bibit pohon ini didukung sepenuhnya oleh Departemen Kehutanan.

Flow dari Germany, ia seorang mahasiswa kedokteran di salah satu universitas  di Germany. Pria beramput pirang ini sudah Sembilan bulan di Thailand.

Anton dari French, ia seorang pria yang senang mendendangkan lagu-lagu French, suaranya bak lantunan lagu perjuangan, ia juga sudah lama di Thailand.

Taka dari Japan , pria berkulit putih ini sudah lama di Aceh, ia juga mahir berbahasa Indonesia. Di Aceh ia seorang guru bahasa jepang, sudah hampir satu tahun ia di Aceh.

Tock dari Thailand. Kulitnya putih, rambutnya lurus. Ia senang berpenampilan gaya Thailnad. Surban di kepalanya tak pernah ia tinggalkan jika ingin pergi jalan-jalan.

Sakarin dari Thailand. Tak berbeda jauh dengan Tock, ia juga senang berpenampilan gaya asli Thailand. Kamera Nikon selalu mendampingginya kemana pun ia pergi. Dalaa Association, itulah organisasi yang ia pimpin di Thailand sehingga membawa ia ke beberapa Negara di Asia.  Ia juga disebut sebagai mbah surip, karena mungkin penampilannya mirip sekali dengan penyanyi lengendaris Indonesia itu.

Selaian kelima warga Negara asing tersebut, turut hadir pula Faisal dan Fauzan. meraka  volunteer lokal dari Al  Kahfi.

Sue mak mak,” ( cantik sekali ) ungkap Tock ketika melihat dua gadis berhenti di samping jalan.

Perjalanan yang memakan  waktu  hampir satu jam setengah itu kami lalaui dengan  innova. Belum hampir setengah perlajalan, kami bertemu Apu, ia juga volunteer di Al Kahfi. Apu dan  kawan-kawannya rupanya  sudah menunggu sejak tadi. Mereka memakai kereta, diantara mereka terlihat ada  yang membawa  satu kardus mie dan kuali. Semuanya tiga belas orang.

“wow…gankster,” ungkap Sakarin sambil menggangkat kamera kesayangganya.

Jam di Hp Iwan sudah menunjukan pukul 09.12 WIB, kami sampai di sebuah perkampungan di pinggir pantai. Dari kejauhan tercium bau kotoran ayam, dihadapan kami terlihat perkampungan dihiasi lampu yang dipisahkan oleh laut. Lantunan musik juga masih terdengar disitu, entah dari mana asalnya.

“Seharusnya kalian kalo mau pigi itu siang tadi, tidak sekarang,” jelas sopir yang membawa kami.

ini bahaya ini,” tambah Taka.

Gurihnya kacang mente yang dibawa Flow dan desir ombak seolah-olah menggalahkan rasa takut kami. “ mari kita ber do’a menurut kepercayaan kita masing-masing,”ungkap Apu saat mengawali perjalanan kami ke hutan. Tak ada yang bersuara malam itu, semuanya berjalan satu baris. Dibelakangku Anton, ia memakai kaos putih bermerek “ Flat T-shirt”. Di depanku Tock, ia terlihat menggantungkan kamera di leher.

be careful,” (hati-hati) teriak Anton.

Jalan setapak yang kami lalaui terdapat banyak batu, tanahnya becek dan disebelah kanannya ada jurang terjal. Hanya ranting kayu yang menjadi peganggan.

Kami istirahat dua kali, istirahat pertama di sebuah tempat yang terjal, semua telihat meminum air, tak ada yang tidak minum  air, walaupun dalam kegelapan, tak ada yang tampak saat itu. Tetapi ketika istirahat kedua kami di sebuah tempat yang rindang, ditutupi oleh pepohonan, suara air menggalir menjadi lantunan indah malam itu.

Di tengah-tengah perjalanan ketika keluar dari kegelapan terlihat rembulan bersinar meneranggi  perjalanan kami. Tak ingin buang waktu, Tock langsung mengabadikan moment itu. Hamparan sabana yang luas menjadi bingkai senyuman kami  malam itu. “Sujot mak-mak,” (bagus sekali) kata Tock. Jebretan cahaya kameranya sesekali bersinar seperti cahaya mercusuar.

“lima menit lagi kita akan sampai,” teriak salah seorang terdengar dari arah depan.

Gemersik ombak terdengar samar-samar, lembutnya pasir telah terasa di setiap langkah kami. Dari kejauhan terlihat cahaya kapal yang seolah-olah menggirimkan pesan SOS.

Nama tempat itu  Lu’ mata ie, sebuah pantai yang terletak di Ujung Pancu, objek wisata yang banyak dikunjungi oleh turis lokal.  Salah satu daya tariknya adalah pemandangan  yang menakjubkan dikala sore hari, kita dapat menyaksikan tenggelamnya matahari dengan bingkai pulau-pulau kecil yang dihiasi pohon kelapa. Tempat ini juga sering digunakan sebagai tempat memancing. katanya tempat ini banyak dihuni beberapa jenis ikan, bahkan hiu pun ada.

Kami tidak sendirian yang berada disitu, ketika kami sampai api rokok pemancing terlihat membara dari arah selatan, seolah-olah meraka sedang menyambut kami.

Waktu itu pukul 22.15 WIB, semua terlihat sibuk dengan tugas masing-masing, ada yang bertugas mencari kayu, mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam.

Hanya sepotong roti dan sepiring mie racikan gankster (sebutan yang diberiakn Sakarin kepada teman-teman Apu) yang menganjal perut kami.  Suasana diskusi semakin hangat ketika berada disekitar api unggun.

“Ini Tock dari Thailand dan ini Sakarin juga dari Thailand,” ungkap Norman. “ dan ini Flow dari Germany,” tambahku.

Tak terasa jam sudah menunjukakn pukul 01.25 WIB semua terlihat menyiapakan tempat tidur di pasir putih, hanya Taka dan beberapa orang yang masih bertahan.

Angin malam itu begitu kencang seolah-olah mengalahkan dinginnya kota Takengon. Iwan mencoba memaksakan tidur  walau pun sesekali terbangun karena dinginya suasana malam itu, hanya balutan sajadah dan berkasurkan pasir yang menemaninya.

Pukul 06.15 WIB matahari belum tampak menyinari pantai, hanya seorang pemancing yang terlihat sholat di atas batu. Api unggun masih hidup pagi itu, hanya aku, Norman, Taka, Fauzan, Faisal yang masih terbangun. Sepotong roti sisa tadi malam menjadi santapan utama pagi itu.

Pantai Lo’ Mata Ie memang subuah pantai yang tidak kalah duanya dengan pantai yang ada di Pulau Weh. Hamparan hutan di kedua sisinya menjadi diding pelindung pantai itu, di hadapannya ada pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni, sesekali terlintas kapal-kapal nelayan, di setiap sudut-sudutnya ditebari oleh bebatuan besar. Hanya saja sampah masih terlihat bertebaran dibeberapa sisi yang merusak  pemandangan. Kesadaran umat manusia yang ada di Aceh memang harus dipertanyakan, rasa kecintaan terhadap lingkungan sendiri haruslah ditanamakan sejak kecil bila  ingin menciptakan Aceh yang hijau. Jika dirawat keasriannya, bukan tidak mungkin pantai Lo’ Mata Ie menjadi tujuan pertama turis-turis yang datang ke Aceh.

Trainningku di Pulau Kayu

banner2banner1
Trainningku di Pulau Kayu

Iwan Aramiko

May, 20 2009

Hanya sehelai sarung yang melapisi tubuh pria berkulit hitam itu, tak ada alas kaki yang melapisi langkahnya mengantarkan kami ke gubuk barunya di desa Pulau Kayu. Dua orang gadis kecil sudah menunggu di depan pintu, seolah-olah sudah menyambut kedatangan kami.

Lapisan tikar pandan yang menemani kedatangan kami sore itu, tak ada perabotan yang berharga, kotak es yang biasa digunakan untuk melaut menjadi penghias ruangan depan rumah bantuan Jerman itu.

Rasa berontak berpadu dengan kerutan dahinya tergambar jelas ketika di tanyai tentang bantuan Tsunami. “ Rumah ini kami terima dari pemerintah Jerman, tak ada satupun bantuan yang kami peroleh dari pemerintah Indonesia, bahkan Raskin yang seharusnya menaji hak kami, kini entah kemana,” unjar Muhammad Nur, lelaki yang sehari-harinya berprofesi sebagai nelayan.

Desember 2004, Tsunami datang mengubah segalanya, mulai dari pekerjaan hingga rumah pun berubah begitu cepat hampir tidak dirasakan, tetapi ada satu hal yang tidak bisa kami dapatkan yang hilang dikala Tsunami, keluarga adalah hal yang sangat berharga dan tidak bisa kami peroleh. Itulah hal yang tergambar dari nelayan tua itu setelah Tsunami ketika peserta Intermediate Trainning menelusuri lebih jauh tentang kehidupan warga Pulau Kayu pasca Tsunami.

Tsunami telah membawa masyarakat Aceh dihujani oleh bentuan-bantuan dari dunia internasional, tidak heran kalau kita banyak melihat pegununggan disulap menjadi kawasan permukiman. Nama kampung-kampung baru pun mulai bermunculan mulai dari bahsa lokal sampai nama negara yang menjadi donor pembangunan rumah itu. Lihat saja di desa Pulau Kayu, setiap rumah di desa itu memiliki bentuk dan warna yang sama, sudah seperti konflek perumahan karyawan perusahaan, hanya saja perbedaannya adalah bentuk dan kualitas rumah tersebut.

Pemberian dari ibu sendiri mungkin lebih terasa nyaman dibandingkan pemberian dari orang lain, itulah yang terlintas dari sebahagian besar warga Pulau Kayu. Harapan, walaupun kecil untuk mendapat perhatian dari pemerintah menjadi harga yang mahal waktu itu, indahnya merasakan makanan yang disuapkan dari ibu adalah hal yang langka. Itulah sedikit mungkin membawa kita kepada kata-kata indah masa lalu yang penuh dengan makna, sesuai dengan penafsiran masing-masing orang.

Kecamatan Susoh desa Pulau Kayu di Aceh Barat Daya yang merupakan salah satu daerah yang tidak luput dari amukan Tsunami yang membawa perubahan besar seluruh aspek kehidupan masyarakat setempat. Masyarakat yang umumnya sebelum Tsunami berfropesi sebagai nelayan kini kehilangan mata pencahariannya. “ kami tidak mempunyai jaring lagi untuk melaut, kalaupun ada itu tidak seperti dulu, ikan yang kami peroleh hanya sedikit, disamping itu yang beli sedikit,” keluh M.Nur.

Tidak hanya M.Nur yang menjadi korban Tsunami yang bernasip buruk, ketika peserta pelatihan trainning PII mencoba mencari bekas-bekas Tsunami yang lain juga menemukan kasus yang serupa. Seorang tua renta ditemani anak semata wayangnya juga menjadi korban Tsunami.

Walaupun kami tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, kami tidak terlepas hubungan dengan nenek. Dengan harapan dapat menerima bantuan, nenek mencoba menjelaskan segala pengalamannya dikala Tsunami, “ Kami bukan yang akan memberi bantuan, tapi kami hanya mencari informasi tentang masyarakat di sini,” sahut salah seorang peserta trainning dengan menggunakan bahasa Aceh.

Diding yang retak menjadi pemandangan pulang usai menjalankan survei dari desa Pulau Kayu, di tambah dengan matahari tengelam menjadi komposisi yang serasi menggambarkan bagaimana keadaan desa itu.

Kepenakan dan rasa simpati seolah-olah hilang ketika mencicipi suguhan buka puasa di lokasi trainning, tetapi hal yang baru kami alami tidak dapat terlupakan dari benak kami, bayang-bayang desa Pulau Kayu selalu saja menganggu pikiran kami.

Keesokan harinya dengan gagasan salah seorang tentor, kami mencoba menggalang dana ke seluruh peserta trainning. Hari itu merupakan hari yang bersejarah bagi seluruh peserta trainning, kami mendapat misi baru ke desa Pulau Kayu, kali ini kami tidak melakukan survei, tetapi kami melakuakan tindakan sosial terhadap penduduk desa Pulau Kayu.

Kerjasama untuk mencari bantuan ke seluruh peserta training saat itu yang mencapai seribu orang menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami, walaupun uang yang kami kumpulkan tidak seberapa, tetapi jumlah itu sudah menbantu nenek.

Senang dan rasa haru walaupun kami kurang mahir berbahasa Aceh menjadi kepuasan tersendiri melihat pemberian kami di terima dengan senang hati oleh nenek. Suasana buka puasa bersama nenek menjadi hal yang sangat istimewa bagi kami, gelak tawa seolah-olah telah menghilangkan duka nenek ketika Tsunami.

bodoh

Bodoh

Bodoh…bodoh…bodoh…
Ketika suaramu diperdagangkan
Ketika janji-janji mulai meracuni otakmu
Hidupmu hanya seharga lima puluh ribu…!
Hah…Terlalu murah…
Bertahun-tahun sudah kou rasakan
Hidup dengan kepedihan
Hidup dengan sandiwara
Bahkan hingga mengaungpun kou tidak didengarkan

Dulu…
Tidakkah kou lihat wanita tua itu
Ter injak-injak mengais rupiah
Tidakkah kou lihat ibu hamil itu…
Merintih-rintih terjepit hingga…menjadi karpet kerumunan nafsu

Andai aku menjadi dewa
Akan ku kunyah baliho itu
Agar ia tidak lagi menyebarkan kebohongan di rumah kita

Bodoh…bodoh…bodoh…
Ketika kou mas ih mendengar
Bibir manis itu berdongeng
Bodoh…bodoh…bodoh…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.